Pengungkapan tentang asal-usul ini dianggap perlu oleh tuhan agar manusia dapat mengetahui akan jati diri 'kemanusiaan'nya yang sebenarnya sehingga dengan begitu diharapkan manusia akan mampu mengenal dan mengetahui siapa tuhan yang telah menciptakannya.
Tuhan dengan sifat kasihnya itu tidak hendak membiarkan manusia 'berjalan sendirian' dalam 'kegelapan' dan pengembaraan berfikir untuk mencari tahu akan jati dirinya dan juga siapa yang telah menciptakannya.
Tuhan, sebagai pencipta tentu saja amat mengetahui akan keterbatasan kemampuan berfikir akal manusia ciptaannya itu.
Betapa terbatasnya akal kecerdasan manusia, dimana nalarnya tidak pernah mampu untuk menerima akan adanya suatu 'ketiadaan' yang mutlak. Dalam aritmatika aljabar saja ketiadaan itu hanya baru akan dimengerti oleh akal manusia setelah dilambangkan dengan nol (0), dimana 1-1=0 dan mengapa bila tidak usah kita tulis saja lambang nol itu. Bukankah memang 1-1 itu hasilnya habis, tidak ada apa-apa?
Masih dalam aritmatika, mengenai teori himpunan, dimana himpunan kosong itu memiliki satu anggota himpunan, yang dirumuskan sebagai 0 pangkat n sama dengan 1.
§bersambung bag.kelima§
ALKHAMSAH
Friday, 17 June 2011
Tuesday, 14 June 2011
BELAJAR MENGENAL TUHAN §bagian ketiga§
Ketiga buah pertanyaan Immanuel Kant yang tak pernah dapat dijawab dan 'defenisi manusia' paling mutakhir yang berhasil dicapai oleh filosof yunani Demokritos menjadi bukti akan betapa terbatasnya kecerdasan akal manusia yang hingga kini belum mampu mengungkap jati dirinya yang sebenarnya sebagai manusia. Lalu bila mengenai jati dirinya saja manusia tidak tahu maka apatah lagi tentang tuhan.
Bagaimanapun kita harus sadar bahwa sebetapapun kuat gigihnya pengembaraan nalar akal berfikir manusia tidak akan pernah mampu menyampaikannya pada sebuah pengertian yang hakiki tentang sesuatu.
Logikanya bila kita hendak mengetahui ihwal konkrit suatu produk maka yang harus kita lakukan adalah bertanya pada produsen pembuatnya atau dengan mencari tahu melalui buku keterangan dan petunjuk penggunaan yang telah dikeluarkan oleh sang produsen pembuatnya itu sendiri.
Dalam hal siapakah produsen pembuat manusia jawabannya tentu TUHAN, dan buku keterangan petunjuk penggunaan yang telah dikeluarkan tuhan adalah KITAB SUCI AGAMA yang notabene adalah WAHYU yang telah diberikan tuhan kepada manusia pilihan yang oleh sebagian orang dikenal sebagai NABI (pembawa berita dari tuhan) atau RASUL (utusan tuhan pembawa risalah).
Pencapaian kesadaran tentang budha yang berhasil diperoleh Sidharta Gautama melalui semedhinya dibawah pohon bodhi bukanlah semata hasil perenungan dan pengembaraan fikiran akan tetapi disertai adanya pencerahan yang datang melalui ilham dari tuhan sebagai sesuatu yang boleh dikatakan 'serupa' dengan wahyu, yang mana memang datangnya itu setelah Sidharta Gautama mengalami suatu keadaan yang disebut SAMSARA yang merupakan tahapan tertinggi dari sebuah meditasi dalam semedhi. Proses kejadiannya hampir sama dengan apa yang dialami oleh Nabi Muhammad ketika menyepi di goa Hira' ketika sedang merenungkan keadaan ummatnya yang jahiliyah, dimana wahyu itu datang dari Allah yang dibawa oleh malaikat Jibril berupa ayat alquran yang pertama kali diturunkan yaitu Surat Al'alaq 1-5, yang redaksi terjemahan bebasnya sbb:
1.bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan.
2.menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.bacalah, dan tuhanmu sungguh mulia.
4.tuhan yang telah mengajarkan dengan qalam.
5.yang telah mengajarkan manusia akan segala yang tidak diketahuinya.
Dalam Surat Al'alaq 1-5 ini nampaklah pada kita bahwa tuhan hendak memberitahukan kepada kita tentang asal-usul kejadian manusia.
§bersambung bag.keempat§
Bagaimanapun kita harus sadar bahwa sebetapapun kuat gigihnya pengembaraan nalar akal berfikir manusia tidak akan pernah mampu menyampaikannya pada sebuah pengertian yang hakiki tentang sesuatu.
Logikanya bila kita hendak mengetahui ihwal konkrit suatu produk maka yang harus kita lakukan adalah bertanya pada produsen pembuatnya atau dengan mencari tahu melalui buku keterangan dan petunjuk penggunaan yang telah dikeluarkan oleh sang produsen pembuatnya itu sendiri.
Dalam hal siapakah produsen pembuat manusia jawabannya tentu TUHAN, dan buku keterangan petunjuk penggunaan yang telah dikeluarkan tuhan adalah KITAB SUCI AGAMA yang notabene adalah WAHYU yang telah diberikan tuhan kepada manusia pilihan yang oleh sebagian orang dikenal sebagai NABI (pembawa berita dari tuhan) atau RASUL (utusan tuhan pembawa risalah).
Pencapaian kesadaran tentang budha yang berhasil diperoleh Sidharta Gautama melalui semedhinya dibawah pohon bodhi bukanlah semata hasil perenungan dan pengembaraan fikiran akan tetapi disertai adanya pencerahan yang datang melalui ilham dari tuhan sebagai sesuatu yang boleh dikatakan 'serupa' dengan wahyu, yang mana memang datangnya itu setelah Sidharta Gautama mengalami suatu keadaan yang disebut SAMSARA yang merupakan tahapan tertinggi dari sebuah meditasi dalam semedhi. Proses kejadiannya hampir sama dengan apa yang dialami oleh Nabi Muhammad ketika menyepi di goa Hira' ketika sedang merenungkan keadaan ummatnya yang jahiliyah, dimana wahyu itu datang dari Allah yang dibawa oleh malaikat Jibril berupa ayat alquran yang pertama kali diturunkan yaitu Surat Al'alaq 1-5, yang redaksi terjemahan bebasnya sbb:
1.bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan.
2.menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.bacalah, dan tuhanmu sungguh mulia.
4.tuhan yang telah mengajarkan dengan qalam.
5.yang telah mengajarkan manusia akan segala yang tidak diketahuinya.
Dalam Surat Al'alaq 1-5 ini nampaklah pada kita bahwa tuhan hendak memberitahukan kepada kita tentang asal-usul kejadian manusia.
§bersambung bag.keempat§
BELAJAR MENGENAL TUHAN §bagian kedua§
Teori Evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin yang menyatakan 'manusia seketurunan dengan kera' telah terlanjur ditafsirkan oleh para penganutnya sebagai 'manusia berasal dari kera'.
Bìla memang teori ini benar, lalu mengapa sampai detik ini kita belum pernah mendengar adanya manusia yang muncul tiba-tiba dari hutan tempat habitatnya para kera misalnya yang tanpa identitas dan tanpa asal-usul silsilah keluarga yang jelas, karena ianya itu baru saja melampaui tahapan akhir dari sebuah proses evolusi yang konon terjadi secara terus menerus hingga kini.
Pertanyaan Immanuel Kant yang kedua, dimana kita, adalah pertanyaan yang mengarah pada letak sebuah benda. Dan kita tahu bahwa untuk menyatakan letak sebuah benda dengan benar itu haruslah dapat dibuktikan secara mathematis, misalnya menggunakan titik koordinat sumbu x-y-z dalam diagram cartesius.
Jawaban: Jakarta, Indonesia, bumi, galaksi bima sakti misalnya adalah jawaban yang kurang akurat karena tidak dapat dibuktikan dengan logika mathematis.
Lalu bila kita hendak memetakan 'dimana kita' menggunakan diagram cartesius maka dimanakah kita akan meletakkan titik nol sumbu x-y-z di alam semesta jagat raya yang begitu luasnya ini?
Kenyataan ini, lagi lagi membuktikan betapa terbatasnya kecerdasan akal manusia.
Pertanyaan ketiga, akan kemana kita, adalah pertanyaan yang mengarah pada akhir masa depan yang identik dengan kehidupan nanti setelah kehidupan yang sekarang ini atau hidup setelah mati. Dan ini menjadi pertanyaan yang sangat mustahil untuk dijawab dengan nalar kecerdasan akal manusia yang memang belum pernah mengalaminya sama sekali.
Pengetahuan manusia tentang hidup sesudah mati hanyalah berupa sekumpulan informasi yang diperoleh dari kitab suci agama, yang sifatnya lebih kepada keyakinan keimanan dan bukan merupakan hypothesa ilmiah yang berdasarkan kajian riset dan empirik apalagi sebagai sebuah aksioma sains yang tak terbantahkan.
Maka menjadilah hal ini sebagai bidang pengetahuan yang dimonopoli oleh agama. Jawaban atas pertanyaan 'akan kemana kita' sepenuhnya menjadi wewenang agama.
§bersambung bag. ketiga§
Bìla memang teori ini benar, lalu mengapa sampai detik ini kita belum pernah mendengar adanya manusia yang muncul tiba-tiba dari hutan tempat habitatnya para kera misalnya yang tanpa identitas dan tanpa asal-usul silsilah keluarga yang jelas, karena ianya itu baru saja melampaui tahapan akhir dari sebuah proses evolusi yang konon terjadi secara terus menerus hingga kini.
Pertanyaan Immanuel Kant yang kedua, dimana kita, adalah pertanyaan yang mengarah pada letak sebuah benda. Dan kita tahu bahwa untuk menyatakan letak sebuah benda dengan benar itu haruslah dapat dibuktikan secara mathematis, misalnya menggunakan titik koordinat sumbu x-y-z dalam diagram cartesius.
Jawaban: Jakarta, Indonesia, bumi, galaksi bima sakti misalnya adalah jawaban yang kurang akurat karena tidak dapat dibuktikan dengan logika mathematis.
Lalu bila kita hendak memetakan 'dimana kita' menggunakan diagram cartesius maka dimanakah kita akan meletakkan titik nol sumbu x-y-z di alam semesta jagat raya yang begitu luasnya ini?
Kenyataan ini, lagi lagi membuktikan betapa terbatasnya kecerdasan akal manusia.
Pertanyaan ketiga, akan kemana kita, adalah pertanyaan yang mengarah pada akhir masa depan yang identik dengan kehidupan nanti setelah kehidupan yang sekarang ini atau hidup setelah mati. Dan ini menjadi pertanyaan yang sangat mustahil untuk dijawab dengan nalar kecerdasan akal manusia yang memang belum pernah mengalaminya sama sekali.
Pengetahuan manusia tentang hidup sesudah mati hanyalah berupa sekumpulan informasi yang diperoleh dari kitab suci agama, yang sifatnya lebih kepada keyakinan keimanan dan bukan merupakan hypothesa ilmiah yang berdasarkan kajian riset dan empirik apalagi sebagai sebuah aksioma sains yang tak terbantahkan.
Maka menjadilah hal ini sebagai bidang pengetahuan yang dimonopoli oleh agama. Jawaban atas pertanyaan 'akan kemana kita' sepenuhnya menjadi wewenang agama.
§bersambung bag. ketiga§
Monday, 13 June 2011
Belajar Mengenal Tuhan §bagian pertama§
Berangkat dari pemikiran filsafat bahwa untuk mengenal tuhannya, manusia harus terlebih dahulu mengenal dirinya MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU maka sudah sejak jaman dahulu kala manusia berusaha mencari tahu siapa dirinya.
Konon pada jaman yunani kuno para filosof pernah berkumpul untuk menentukan defenisi manusia.
Aristoteles mengajukan sebuah defenisi yang menyatakan ''bahwa manusia adalah hewan yang tidak berbulu''.
Entah dikarenakan lelah dengan perdebatan alot yang memakan waktu berhari-hari entah karena senioritas seorang aristoteles yang membuat sungkan para filosof untuk berdebat dengannya maka nyaris defenisi aristoteles yang terkesan nyeleneh itu diterima secara aklamasi oleh para filosof kalau saja plato tidak segera keluar ruangan sidang dan dengan sigap menangkap seekor ayam lalu ia cabuti bulunya hingga bersih kemudian ia bawa ke hadapan para filosof seraya bertanya pada para hadirin ''apakah ini juga bisa disebut sebagai manusia?!'', akibatnya aristotolespun dengan tersipu malu menarik kembali defenisinya tersebut dan pembahasanpun dilanjutkan.
Akhirnya demikritos mengajukan sebuah defenisi yang menyatakan ''bahwa manusia adalah hewan yang berakal dan mampu berbicara'', yang dalam bahasa arabnya kita kenal sebagai AL INSAANU HAYAWAANUN NAATHIQUN.
Defenisinya demokritos inilah yang akhirnya diterima dan disepakati oleh para filosof sebagai suatu defenisi yang dianggap paling mendekati kebenaran dan yang paling mutakhir tentang hakikat manusia.
Lalu apakah defenisi ini sudah benar? Bagaimana bila suatu saat ada seekor domba yang mampu berkata-kata seperti manusia, apakah domba tersebut dapat kita katakan sebagai manusia? Dan bagaimana pula halnya dengan orang gila yang konon hilang akal, apakah dapat dikatakan sebagai bukan manusia? Bagaimana pula halnya dengan orang yang koma bertahun-tahun dimana aktifitas dan kemampuan kemanusiaannya itu terhenti sama sekali, apakah juga dapat dikatakan sebagai bukan manusia?
Immanuel Kant, seorang ahli filsafat-metaphisik pernah mengajukan tiga buah pertanyaan yang harus dapat kita jawab terlebih dahulu bila kita hendak mengetahui tentang jati diri kita sebagai manusia.
1. Dari mana kita
2. Dimana kita
3. Akan kemana kita
Pertanyaan pertama, dari mana kita, berarti tentang asal-usul manusia.
bersambung ke bag.2
Konon pada jaman yunani kuno para filosof pernah berkumpul untuk menentukan defenisi manusia.
Aristoteles mengajukan sebuah defenisi yang menyatakan ''bahwa manusia adalah hewan yang tidak berbulu''.
Entah dikarenakan lelah dengan perdebatan alot yang memakan waktu berhari-hari entah karena senioritas seorang aristoteles yang membuat sungkan para filosof untuk berdebat dengannya maka nyaris defenisi aristoteles yang terkesan nyeleneh itu diterima secara aklamasi oleh para filosof kalau saja plato tidak segera keluar ruangan sidang dan dengan sigap menangkap seekor ayam lalu ia cabuti bulunya hingga bersih kemudian ia bawa ke hadapan para filosof seraya bertanya pada para hadirin ''apakah ini juga bisa disebut sebagai manusia?!'', akibatnya aristotolespun dengan tersipu malu menarik kembali defenisinya tersebut dan pembahasanpun dilanjutkan.
Akhirnya demikritos mengajukan sebuah defenisi yang menyatakan ''bahwa manusia adalah hewan yang berakal dan mampu berbicara'', yang dalam bahasa arabnya kita kenal sebagai AL INSAANU HAYAWAANUN NAATHIQUN.
Defenisinya demokritos inilah yang akhirnya diterima dan disepakati oleh para filosof sebagai suatu defenisi yang dianggap paling mendekati kebenaran dan yang paling mutakhir tentang hakikat manusia.
Lalu apakah defenisi ini sudah benar? Bagaimana bila suatu saat ada seekor domba yang mampu berkata-kata seperti manusia, apakah domba tersebut dapat kita katakan sebagai manusia? Dan bagaimana pula halnya dengan orang gila yang konon hilang akal, apakah dapat dikatakan sebagai bukan manusia? Bagaimana pula halnya dengan orang yang koma bertahun-tahun dimana aktifitas dan kemampuan kemanusiaannya itu terhenti sama sekali, apakah juga dapat dikatakan sebagai bukan manusia?
Immanuel Kant, seorang ahli filsafat-metaphisik pernah mengajukan tiga buah pertanyaan yang harus dapat kita jawab terlebih dahulu bila kita hendak mengetahui tentang jati diri kita sebagai manusia.
1. Dari mana kita
2. Dimana kita
3. Akan kemana kita
Pertanyaan pertama, dari mana kita, berarti tentang asal-usul manusia.
bersambung ke bag.2
Thursday, 9 June 2011
Wednesday, 8 June 2011
Sunday, 10 October 2010
MULAILAH SEGALANYA DENGAN BISMILLAAH.....
Bagi setiap orang yang beriman dalam memulai segala aktifitasnya senantiasa didahului dengan ucapan "bismillaahirrahmaanirrahiim" sebagai suatu kewajiban moral dalam agama yang mencerminkan adanya keimanan dan ketaqwaan serta sebagai suatu ekspresi dari rasa syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat nikmat karunianya yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita. Pengucapan basmalah dalam setiap awal mula kita melakukan suatu aktifitas, baik yang sifatnya 'pekerjaan besar' maupun yang sifatnya hanya sebuah 'pekerjaan kecil', adalah menjadi bukti akan pengakuan kita terhadap eksistensi kekuatan kekuasaan tuhan yang mengatasi segala kekuatan upaya dan kemampuan manusia.
Nabi SAW dalam sebuah haditsnya bersabda:
KULLU AMRIN DZII BAALIN LAA YUBDAA-U BIBISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
"bahwa segala perkara akan menjadi sia-sia (tak bermanfaat, tidak berkah) bila tanpa dimulai dengan basmalah"
Orang beriman dalam setiap detak detik langkahnya mengarungi alur kehidupannya adalah senantiasa tidak lepas dari mengingat akan kebesaran Allah SWT yang menjadi penguasa tertinggi alam semesta jagat raya yang kuat-kuasa hukum undang-undangnya bersifat absolut.Karenanya orang beriman selalu memulai segala sesuatunya itu dengan ucapan ; bismillaahirrahmaanirrahiim, baik dalam awal suatu pekerjaan besar maupun pekerjaan kecil. Ketika hendak keluar rumah kita ucapkan basmalah seraya kita lanjutkan dengan doa: bismillaahi tawakkaltu 'alallaahi laa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim. Dan ketika hendak menaiki kendaraan kita mengucapkan: bismillaahi majreha wa mursaahaa. Dan ketika kita telah berkendara maka kitapun berucap syukur: alhamdulillaahilladzii sakhkhara lanaa haadza wamaa kunnaa lahuu muqriniin wa innaa ilaa rabinaa lamunqalibuun.
Masuk dan keluar rumah, masuk dan keluar masjid, makan, minum, dan segala aktifitas lainnya, di dalam islam itu ada doanya dan selalu dimulai dengan basmalah, agar mendapat 'restu' dan barakah dari tuhan.
Bila dalam suatu pekerjaan 'sederhana' dan 'kecil' saja kita orang beriman diharuskan memulainya dengan basmalah, maka apatah lagi dalam suatu PROKLAMASI KEMERDEKAAN yang merupakan deklarasi pembentukan sebuah negara!
Dan kekhilafan kita akan pengucapan basmalah dalam awal suatu pekerjaan akan menjadi bumerang yang lambat atau cepat akan kita rasakan akibatnya. Segala yang kita miliki hanya akan menjadi sia-sia karena ketiadaan keberkahan dan karena terputusnya dari rahmat Allah SWT, na'uudzubillah. Sebanyak apapun kekayaan yang kita miliki, sepandai apapun kemampuan intelektualitas kita, semua itu tidak akan bermanfaat bila keberkahannya dicabut. Yang akan terjadi malah peribahasa "semut mati diatas gula". Dan itulah yang sekarang sedang terjadi pada bangsa kita. Negeri kita kaya raya tapi rakyatnya miskin, sampai-sampai harus jadi jongos dan babu, baik di negeri sendiri maupun di negeri orang! Padahal seharusnya kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negeri kita dapat memakmurkan rakyatnya bila saja dikelola dengan baik dan amanah.Sebagai contoh kita lihat Irian Jaya yang memiliki "gunung emas" di Tembagapura, siapa yang menikmati hasil eksplorasi kekayaan tambang tersebut? Apakah rakyat Irian? Bukan. Sampai hari ini sebahagian besar rakyat Irian dibiarkan miskin dan bodoh dalam keprimitifannya dengan koteka dan dedaunan/kulit kayu sebagai pembungkus tubuh mereka. Okelah, penduduk Irian itu mungkin saja menurut pandangan kapitalis dan kolonialis "halal" diperlakukan semacam itu sebab mereka tidak se-ras dengan kita. Kita ini ras melayu-austronesia sedangkan mereka ras kaukassoid. Kita berada di paparan pegunungan sirkum pasifik-mediterania sedangkan mereka berada di paparan sahul. secara ras ethnis dan geologis Indonesia memang tidak sama dengan bangsa Papua di Irian. Tapi apakah harus begitu? Bukankah Indonesia menganut azas Pancasila yang memiliki sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab? Lalu setelah perlakuan kita yang tega terhadap bangsa papua, mengapa kita lakukan juga sikap tega dan kejam itu terhadap sesama keturunan ras melayu-austronesia dengan mengeksploitasi wanita mereka sebagai TKW menjadi babu di negeri asing dengan jaminan keselamatan yang tidak jelas dan rentan terhadap tindak penganiayaan dan pelecehan sexual. Seorang pemimpin negara yang bertanggung jawab dan memiliki rasa cinta kasih yang tinggi terhadap rakyat dan negaranya, tentu tidak akan terus menerus membiarkan keadaan terjadi berkepanjangan. STOP EKSPLOITASI TERHADAP BANGSA SENDIRI, STOP PENGIRIMAN TKW, JIKA KITA PUNYA HARGA DIRI SEBAGAI BANGSA YANG BESAR!
Nabi SAW dalam sebuah haditsnya bersabda:
KULLU AMRIN DZII BAALIN LAA YUBDAA-U BIBISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
"bahwa segala perkara akan menjadi sia-sia (tak bermanfaat, tidak berkah) bila tanpa dimulai dengan basmalah"
Orang beriman dalam setiap detak detik langkahnya mengarungi alur kehidupannya adalah senantiasa tidak lepas dari mengingat akan kebesaran Allah SWT yang menjadi penguasa tertinggi alam semesta jagat raya yang kuat-kuasa hukum undang-undangnya bersifat absolut.Karenanya orang beriman selalu memulai segala sesuatunya itu dengan ucapan ; bismillaahirrahmaanirrahiim, baik dalam awal suatu pekerjaan besar maupun pekerjaan kecil. Ketika hendak keluar rumah kita ucapkan basmalah seraya kita lanjutkan dengan doa: bismillaahi tawakkaltu 'alallaahi laa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim. Dan ketika hendak menaiki kendaraan kita mengucapkan: bismillaahi majreha wa mursaahaa. Dan ketika kita telah berkendara maka kitapun berucap syukur: alhamdulillaahilladzii sakhkhara lanaa haadza wamaa kunnaa lahuu muqriniin wa innaa ilaa rabinaa lamunqalibuun.
Masuk dan keluar rumah, masuk dan keluar masjid, makan, minum, dan segala aktifitas lainnya, di dalam islam itu ada doanya dan selalu dimulai dengan basmalah, agar mendapat 'restu' dan barakah dari tuhan.
Bila dalam suatu pekerjaan 'sederhana' dan 'kecil' saja kita orang beriman diharuskan memulainya dengan basmalah, maka apatah lagi dalam suatu PROKLAMASI KEMERDEKAAN yang merupakan deklarasi pembentukan sebuah negara!
Dan kekhilafan kita akan pengucapan basmalah dalam awal suatu pekerjaan akan menjadi bumerang yang lambat atau cepat akan kita rasakan akibatnya. Segala yang kita miliki hanya akan menjadi sia-sia karena ketiadaan keberkahan dan karena terputusnya dari rahmat Allah SWT, na'uudzubillah. Sebanyak apapun kekayaan yang kita miliki, sepandai apapun kemampuan intelektualitas kita, semua itu tidak akan bermanfaat bila keberkahannya dicabut. Yang akan terjadi malah peribahasa "semut mati diatas gula". Dan itulah yang sekarang sedang terjadi pada bangsa kita. Negeri kita kaya raya tapi rakyatnya miskin, sampai-sampai harus jadi jongos dan babu, baik di negeri sendiri maupun di negeri orang! Padahal seharusnya kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negeri kita dapat memakmurkan rakyatnya bila saja dikelola dengan baik dan amanah.Sebagai contoh kita lihat Irian Jaya yang memiliki "gunung emas" di Tembagapura, siapa yang menikmati hasil eksplorasi kekayaan tambang tersebut? Apakah rakyat Irian? Bukan. Sampai hari ini sebahagian besar rakyat Irian dibiarkan miskin dan bodoh dalam keprimitifannya dengan koteka dan dedaunan/kulit kayu sebagai pembungkus tubuh mereka. Okelah, penduduk Irian itu mungkin saja menurut pandangan kapitalis dan kolonialis "halal" diperlakukan semacam itu sebab mereka tidak se-ras dengan kita. Kita ini ras melayu-austronesia sedangkan mereka ras kaukassoid. Kita berada di paparan pegunungan sirkum pasifik-mediterania sedangkan mereka berada di paparan sahul. secara ras ethnis dan geologis Indonesia memang tidak sama dengan bangsa Papua di Irian. Tapi apakah harus begitu? Bukankah Indonesia menganut azas Pancasila yang memiliki sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab? Lalu setelah perlakuan kita yang tega terhadap bangsa papua, mengapa kita lakukan juga sikap tega dan kejam itu terhadap sesama keturunan ras melayu-austronesia dengan mengeksploitasi wanita mereka sebagai TKW menjadi babu di negeri asing dengan jaminan keselamatan yang tidak jelas dan rentan terhadap tindak penganiayaan dan pelecehan sexual. Seorang pemimpin negara yang bertanggung jawab dan memiliki rasa cinta kasih yang tinggi terhadap rakyat dan negaranya, tentu tidak akan terus menerus membiarkan keadaan terjadi berkepanjangan. STOP EKSPLOITASI TERHADAP BANGSA SENDIRI, STOP PENGIRIMAN TKW, JIKA KITA PUNYA HARGA DIRI SEBAGAI BANGSA YANG BESAR!
Subscribe to:
Posts (Atom)