Monday, 13 June 2011

Belajar Mengenal Tuhan §bagian pertama§

Berangkat dari pemikiran filsafat bahwa untuk mengenal tuhannya, manusia harus terlebih dahulu mengenal dirinya MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU maka sudah sejak jaman dahulu kala manusia berusaha mencari tahu siapa dirinya.

Konon pada jaman yunani kuno para filosof pernah berkumpul untuk menentukan defenisi manusia.
Aristoteles mengajukan sebuah defenisi yang menyatakan ''bahwa manusia adalah hewan yang tidak berbulu''.
Entah dikarenakan lelah dengan perdebatan alot yang memakan waktu berhari-hari entah karena senioritas seorang aristoteles yang membuat sungkan para filosof untuk berdebat dengannya maka nyaris defenisi aristoteles yang terkesan nyeleneh itu diterima secara aklamasi oleh para filosof kalau saja plato tidak segera keluar ruangan sidang dan dengan sigap menangkap seekor ayam lalu ia cabuti bulunya hingga bersih kemudian ia bawa ke hadapan para filosof seraya bertanya pada para hadirin ''apakah ini juga bisa disebut sebagai manusia?!'', akibatnya aristotolespun dengan tersipu malu menarik kembali defenisinya tersebut dan pembahasanpun dilanjutkan.

Akhirnya demikritos mengajukan sebuah defenisi yang menyatakan ''bahwa manusia adalah hewan yang berakal dan mampu berbicara'', yang dalam bahasa arabnya kita kenal sebagai AL INSAANU HAYAWAANUN NAATHIQUN.
Defenisinya demokritos inilah yang akhirnya diterima dan disepakati oleh para filosof sebagai suatu defenisi yang dianggap paling mendekati kebenaran dan yang paling mutakhir tentang hakikat manusia.
Lalu apakah defenisi ini sudah benar? Bagaimana bila suatu saat ada seekor domba yang mampu berkata-kata seperti manusia, apakah domba tersebut dapat kita katakan sebagai manusia? Dan bagaimana pula halnya dengan orang gila yang konon hilang akal, apakah dapat dikatakan sebagai bukan manusia? Bagaimana pula halnya dengan orang yang koma bertahun-tahun dimana aktifitas dan kemampuan kemanusiaannya itu terhenti sama sekali, apakah juga dapat dikatakan sebagai bukan manusia?


Immanuel Kant, seorang ahli filsafat-metaphisik pernah mengajukan tiga buah pertanyaan yang harus dapat kita jawab terlebih dahulu bila kita hendak mengetahui tentang jati diri kita sebagai manusia.
1. Dari mana kita
2. Dimana kita
3. Akan kemana kita

Pertanyaan pertama, dari mana kita, berarti tentang asal-usul manusia.


bersambung ke bag.2

3 comments:

  1. artikel yang saya posting ini disarikan dari kuliah mata pelajaran bidang ILMU KALAM yang telah disampaikan oleh DR.KH.FUAD HASYIM, MA di aula Yayasan Al Hamidiyah Jakarta pada tahun 1982 dihadapan para asatidz peserta KURSUS KADER DA'WAH/1982 yang diselenggarakan ITTIHADUL MUBALLIGHIN JAKARTA, yang mana saya termasuk salah seorang pesertanya.

    Postingan ini saya tuliskan dalam beberapa bagian secara bersambung mengingat bahwa telah begitu lamanya saat ketika mata kuliah ini disampaikan yaitu kurang lebihnya 29 tahun yang lampau, sehingga diperlukan waktu dan energi yang agak ekstra untuk memeras otak demi mengingat kembali ucapan-ucapan beliau ketika menyampaikan mata kuliah ini, untuk kemudian saya susun menjadi artikel yang enak dibaca dan mampu memuat pengertian yang terkandung di dalamnya, walaupun penyampaiannya tidak sama persis disebabkan adanya perbedaan gaya bahasa antara saya dengan beliau namun saya berharap tidak akan menyimpang maknanya dari apa yang telah beliau sampaikan. Selain itu aplikasi opera mini yang terdapat pada hp sonyericsson type K510i yang saya miliki hanya mampu menuliskan 247 karakter memaksa saya harus membagi tulisan ini ke dalam beberapa bagian yang saya posting berurutan.

    Saya berharap postingan ini bermanfaat bagi kita semua terutama bagi anak-anak saya RATNA AYU UTAMI PARAMADEWANI dan RAMANAGARA GINUNG PRATINA di Ponorogo serta DIYUYALIDA VITHRATA dan DYAH RAHMATULLAH MURSYID ALKAHFI di Kendal.

    Semoga Allah SWT mencatat postingan saya ini sebagai sebuah kebajikan yang dapat menolong saya di hadapan pengadilan akhirat kelak, aamiin yaa Rabbal'aalamiin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. tolong .dibuka blognya.biar cepet tau kalau anakmu dah lama kangen denganmu,

      Delete