Friday, 17 June 2011

BELAJAR MENGENAL TUHAN §bagian keempat§

Pengungkapan tentang asal-usul ini dianggap perlu oleh tuhan agar manusia dapat mengetahui akan jati diri 'kemanusiaan'nya yang sebenarnya sehingga dengan begitu diharapkan manusia akan mampu mengenal dan mengetahui siapa tuhan yang telah menciptakannya.

Tuhan dengan sifat kasihnya itu tidak hendak membiarkan manusia 'berjalan sendirian' dalam 'kegelapan' dan pengembaraan berfikir untuk mencari tahu akan jati dirinya dan juga siapa yang telah menciptakannya.
Tuhan, sebagai pencipta tentu saja amat mengetahui akan keterbatasan kemampuan berfikir akal manusia ciptaannya itu.

Betapa terbatasnya akal kecerdasan manusia, dimana nalarnya tidak pernah mampu untuk menerima akan adanya suatu 'ketiadaan' yang mutlak. Dalam aritmatika aljabar saja ketiadaan itu hanya baru akan dimengerti oleh akal manusia setelah dilambangkan dengan nol (0), dimana 1-1=0 dan mengapa bila tidak usah kita tulis saja lambang nol itu. Bukankah memang 1-1 itu hasilnya habis, tidak ada apa-apa?
Masih dalam aritmatika, mengenai teori himpunan, dimana himpunan kosong itu memiliki satu anggota himpunan, yang dirumuskan sebagai 0 pangkat n sama dengan 1.


§bersambung bag.kelima§

Tuesday, 14 June 2011

BELAJAR MENGENAL TUHAN §bagian ketiga§

Ketiga buah pertanyaan Immanuel Kant yang tak pernah dapat dijawab dan 'defenisi manusia' paling mutakhir yang berhasil dicapai oleh filosof yunani Demokritos menjadi bukti akan betapa terbatasnya kecerdasan akal manusia yang hingga kini belum mampu mengungkap jati dirinya yang sebenarnya sebagai manusia. Lalu bila mengenai jati dirinya saja manusia tidak tahu maka apatah lagi tentang tuhan.

Bagaimanapun kita harus sadar bahwa sebetapapun kuat gigihnya pengembaraan nalar akal berfikir manusia tidak akan pernah mampu menyampaikannya pada sebuah pengertian yang hakiki tentang sesuatu.
Logikanya bila kita hendak mengetahui ihwal konkrit suatu produk maka yang harus kita lakukan adalah bertanya pada produsen pembuatnya atau dengan mencari tahu melalui buku keterangan dan petunjuk penggunaan yang telah dikeluarkan oleh sang produsen pembuatnya itu sendiri.

Dalam hal siapakah produsen pembuat manusia jawabannya tentu TUHAN, dan buku keterangan petunjuk penggunaan yang telah dikeluarkan tuhan adalah KITAB SUCI AGAMA yang notabene adalah WAHYU yang telah diberikan tuhan kepada manusia pilihan yang oleh sebagian orang dikenal sebagai NABI (pembawa berita dari tuhan) atau RASUL (utusan tuhan pembawa risalah).
Pencapaian kesadaran tentang budha yang berhasil diperoleh Sidharta Gautama melalui semedhinya dibawah pohon bodhi bukanlah semata hasil perenungan dan pengembaraan fikiran akan tetapi disertai adanya pencerahan yang datang melalui ilham dari tuhan sebagai sesuatu yang boleh dikatakan 'serupa' dengan wahyu, yang mana memang datangnya itu setelah Sidharta Gautama mengalami suatu keadaan yang disebut SAMSARA yang merupakan tahapan tertinggi dari sebuah meditasi dalam semedhi. Proses kejadiannya hampir sama dengan apa yang dialami oleh Nabi Muhammad ketika menyepi di goa Hira' ketika sedang merenungkan keadaan ummatnya yang jahiliyah, dimana wahyu itu datang dari Allah yang dibawa oleh malaikat Jibril berupa ayat alquran yang pertama kali diturunkan yaitu Surat Al'alaq 1-5, yang redaksi terjemahan bebasnya sbb:
1.bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan.
2.menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.bacalah, dan tuhanmu sungguh mulia.
4.tuhan yang telah mengajarkan dengan qalam.
5.yang telah mengajarkan manusia akan segala yang tidak diketahuinya.

Dalam Surat Al'alaq 1-5 ini nampaklah pada kita bahwa tuhan hendak memberitahukan kepada kita tentang asal-usul kejadian manusia.


§bersambung bag.keempat§

BELAJAR MENGENAL TUHAN §bagian kedua§

Teori Evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin yang menyatakan 'manusia seketurunan dengan kera' telah terlanjur ditafsirkan oleh para penganutnya sebagai 'manusia berasal dari kera'.
Bìla memang teori ini benar, lalu mengapa sampai detik ini kita belum pernah mendengar adanya manusia yang muncul tiba-tiba dari hutan tempat habitatnya para kera misalnya yang tanpa identitas dan tanpa asal-usul silsilah keluarga yang jelas, karena ianya itu baru saja melampaui tahapan akhir dari sebuah proses evolusi yang konon terjadi secara terus menerus hingga kini.

Pertanyaan Immanuel Kant yang kedua, dimana kita, adalah pertanyaan yang mengarah pada letak sebuah benda. Dan kita tahu bahwa untuk menyatakan letak sebuah benda dengan benar itu haruslah dapat dibuktikan secara mathematis, misalnya menggunakan titik koordinat sumbu x-y-z dalam diagram cartesius.
Jawaban: Jakarta, Indonesia, bumi, galaksi bima sakti misalnya adalah jawaban yang kurang akurat karena tidak dapat dibuktikan dengan logika mathematis.
Lalu bila kita hendak memetakan 'dimana kita' menggunakan diagram cartesius maka dimanakah kita akan meletakkan titik nol sumbu x-y-z di alam semesta jagat raya yang begitu luasnya ini?
Kenyataan ini, lagi lagi membuktikan betapa terbatasnya kecerdasan akal manusia.

Pertanyaan ketiga, akan kemana kita, adalah pertanyaan yang mengarah pada akhir masa depan yang identik dengan kehidupan nanti setelah kehidupan yang sekarang ini atau hidup setelah mati. Dan ini menjadi pertanyaan yang sangat mustahil untuk dijawab dengan nalar kecerdasan akal manusia yang memang belum pernah mengalaminya sama sekali.
Pengetahuan manusia tentang hidup sesudah mati hanyalah berupa sekumpulan informasi yang diperoleh dari kitab suci agama, yang sifatnya lebih kepada keyakinan keimanan dan bukan merupakan hypothesa ilmiah yang berdasarkan kajian riset dan empirik apalagi sebagai sebuah aksioma sains yang tak terbantahkan.
Maka menjadilah hal ini sebagai bidang pengetahuan yang dimonopoli oleh agama. Jawaban atas pertanyaan 'akan kemana kita' sepenuhnya menjadi wewenang agama.


§bersambung bag. ketiga§

Monday, 13 June 2011

Belajar Mengenal Tuhan §bagian pertama§

Berangkat dari pemikiran filsafat bahwa untuk mengenal tuhannya, manusia harus terlebih dahulu mengenal dirinya MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU maka sudah sejak jaman dahulu kala manusia berusaha mencari tahu siapa dirinya.

Konon pada jaman yunani kuno para filosof pernah berkumpul untuk menentukan defenisi manusia.
Aristoteles mengajukan sebuah defenisi yang menyatakan ''bahwa manusia adalah hewan yang tidak berbulu''.
Entah dikarenakan lelah dengan perdebatan alot yang memakan waktu berhari-hari entah karena senioritas seorang aristoteles yang membuat sungkan para filosof untuk berdebat dengannya maka nyaris defenisi aristoteles yang terkesan nyeleneh itu diterima secara aklamasi oleh para filosof kalau saja plato tidak segera keluar ruangan sidang dan dengan sigap menangkap seekor ayam lalu ia cabuti bulunya hingga bersih kemudian ia bawa ke hadapan para filosof seraya bertanya pada para hadirin ''apakah ini juga bisa disebut sebagai manusia?!'', akibatnya aristotolespun dengan tersipu malu menarik kembali defenisinya tersebut dan pembahasanpun dilanjutkan.

Akhirnya demikritos mengajukan sebuah defenisi yang menyatakan ''bahwa manusia adalah hewan yang berakal dan mampu berbicara'', yang dalam bahasa arabnya kita kenal sebagai AL INSAANU HAYAWAANUN NAATHIQUN.
Defenisinya demokritos inilah yang akhirnya diterima dan disepakati oleh para filosof sebagai suatu defenisi yang dianggap paling mendekati kebenaran dan yang paling mutakhir tentang hakikat manusia.
Lalu apakah defenisi ini sudah benar? Bagaimana bila suatu saat ada seekor domba yang mampu berkata-kata seperti manusia, apakah domba tersebut dapat kita katakan sebagai manusia? Dan bagaimana pula halnya dengan orang gila yang konon hilang akal, apakah dapat dikatakan sebagai bukan manusia? Bagaimana pula halnya dengan orang yang koma bertahun-tahun dimana aktifitas dan kemampuan kemanusiaannya itu terhenti sama sekali, apakah juga dapat dikatakan sebagai bukan manusia?


Immanuel Kant, seorang ahli filsafat-metaphisik pernah mengajukan tiga buah pertanyaan yang harus dapat kita jawab terlebih dahulu bila kita hendak mengetahui tentang jati diri kita sebagai manusia.
1. Dari mana kita
2. Dimana kita
3. Akan kemana kita

Pertanyaan pertama, dari mana kita, berarti tentang asal-usul manusia.


bersambung ke bag.2