Tuesday, 14 June 2011

BELAJAR MENGENAL TUHAN §bagian kedua§

Teori Evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin yang menyatakan 'manusia seketurunan dengan kera' telah terlanjur ditafsirkan oleh para penganutnya sebagai 'manusia berasal dari kera'.
Bìla memang teori ini benar, lalu mengapa sampai detik ini kita belum pernah mendengar adanya manusia yang muncul tiba-tiba dari hutan tempat habitatnya para kera misalnya yang tanpa identitas dan tanpa asal-usul silsilah keluarga yang jelas, karena ianya itu baru saja melampaui tahapan akhir dari sebuah proses evolusi yang konon terjadi secara terus menerus hingga kini.

Pertanyaan Immanuel Kant yang kedua, dimana kita, adalah pertanyaan yang mengarah pada letak sebuah benda. Dan kita tahu bahwa untuk menyatakan letak sebuah benda dengan benar itu haruslah dapat dibuktikan secara mathematis, misalnya menggunakan titik koordinat sumbu x-y-z dalam diagram cartesius.
Jawaban: Jakarta, Indonesia, bumi, galaksi bima sakti misalnya adalah jawaban yang kurang akurat karena tidak dapat dibuktikan dengan logika mathematis.
Lalu bila kita hendak memetakan 'dimana kita' menggunakan diagram cartesius maka dimanakah kita akan meletakkan titik nol sumbu x-y-z di alam semesta jagat raya yang begitu luasnya ini?
Kenyataan ini, lagi lagi membuktikan betapa terbatasnya kecerdasan akal manusia.

Pertanyaan ketiga, akan kemana kita, adalah pertanyaan yang mengarah pada akhir masa depan yang identik dengan kehidupan nanti setelah kehidupan yang sekarang ini atau hidup setelah mati. Dan ini menjadi pertanyaan yang sangat mustahil untuk dijawab dengan nalar kecerdasan akal manusia yang memang belum pernah mengalaminya sama sekali.
Pengetahuan manusia tentang hidup sesudah mati hanyalah berupa sekumpulan informasi yang diperoleh dari kitab suci agama, yang sifatnya lebih kepada keyakinan keimanan dan bukan merupakan hypothesa ilmiah yang berdasarkan kajian riset dan empirik apalagi sebagai sebuah aksioma sains yang tak terbantahkan.
Maka menjadilah hal ini sebagai bidang pengetahuan yang dimonopoli oleh agama. Jawaban atas pertanyaan 'akan kemana kita' sepenuhnya menjadi wewenang agama.


§bersambung bag. ketiga§

No comments:

Post a Comment